Tradisi Pembuatan Ogoh-ogoh Jelang Malam Takbir di Area Todanan Blora
Setelah melaksanakan ibadah suci di bulan Ramadhan yang penuh berkah, dimana kita harus menahan nafsu, lapar, dan dahaga. Di hari yang kita tunggu-tunggu, hari Raya Idul Fitri yang merupakan hari besar di agama islam. Berbeda dengan tahun yang sebelumnya, 2 tahun sebelumnya kita melaksanakan ibadah puasa kurang memuaskan bagi kita, setelah hilangnya pandemi ini kita dapat melaksanakan hari kemenangan kita dengan leluasa. Yang dapat kita rayakan dengan keseruan-keseruan dan memeraihkan hari Raya Idul Fitri 1444 H. Di hari raya pada tahun ini tepatnya di desa kedungwungu kecamatan todanan kabupaten Blora, memeriahkan malam tabir dengan pembuatan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh tersebut digunakan untuk memeriahkan takbir keliling di desa setempat. Untuk menyelesaikan ogoh-ogoh perlu persiapan yang panjang. Ogoh-ogoh yang kota buat merupakan ogoh-ogoh berbentuk buto (setan) dalam bahasa Jawa. Suport dari para pemuda desa Kedungwungu dan perangkat desa yang lainnya menjadikan semangat kita untuk memeriahkan malam takbir pada tahun ini. Pada tahun ini, takbir keliling sudah mendapatkan izin dari pihak keamanan. Di tahun sebelumnya dikarenakan adanya pandemi covid larangan dari pihak keamanan untuk melaksanakan takbir keliling. Sebelum 1 minggu menjelang malam takbir kami mempersiapkan bahan-bahan yang kita gunakan untuk membuat ogoh-ogoh. Sebelumnya kami para pemuda tidak memikirkan untuk merayakan malam takbir tahun ini dengan membuat ogoh-ogoh, tetapi dari desa sebelah, desa tinapan yang meminta izin ke desa kami untuk melaksanakan takbir keliling. Paman saya yang merupakan ketua RW desa tinapan yang mengajukan surat perizinan untuk melaksanakan takbir keliling sampai di desa kami. Paman saya memberikan izin dengan persetujuan tidak ada kerusuhan pada saat pelaksanaan malam takbir keliling. Dari situ kami para pemuda desa kedungwungu di perintahkan untuk membuat ogoh-ogoh. Saya yang pulang dari Solo malam itu langsung di temui oleh paman saya, paman saya menanyakan kepada saya, nde omah sue ora le ? (Di rumah lama kah nak?) Ujar paman saya, iya, aku nde omah sue, la piye pak? (Iya saya di rumah lama, gimana Pak?) jawab saya kepada paman saya. Paman saya menjelaskan, bahwa kemarin ia di mintai izin oleh ketua RW desa tinapan, bahwa mereka akan melaksanakan takbir keliling sampai desa kedungwungu. Tidak banyak kata paman saya langsung menyuruh saya dan pemuda lainnya untuk membuat ogoh-ogoh. Namun saya tidak langsung mengiyakan, dikarenakan persiapan yang kurang dan sangat mepet. Paman saya yang mendesak saya untuk membuat ogoh-ogoh dengan perimbangan dan tawaran yang diberikan oleh paman saya. Setelah itu saya menyetujuinya, di hari h-9 malam takbir pada pagi hari itu saya membuat gambar konsep dari ogoh-ogoh yang kami buat. Dan aaya menginformasikan kepada para pemuda untuk membantu dari pengambilan bambu hingga perancangan selesai. Setelah saya menginformasikan kepada para pemuda, tepatnya pada jam 14.15 di hari itu langsung penebangan bambu. Seiring berjalannya waktu dari penebangan bambu saya juga menjelaskan kepada teman teman pemuda desa mengenai konsep ogoh-ogoh yang akan di buat. Kami membuat dari habis shalat tarawih hingga sampai hampir sahur. Itu kami lakukan setiap hari , tempat pembuatan di depan rumah paman saya. Partisipasi dari pemuda dan warga lainnya sangat antusias. Dari anak-anak kecil hingga orang tua ikut membantu dalam pembuatan ogoh-ogoh. Setelah menjelang h-1 malam takbir kita prepare dan menyelesaikan yang masih kurang. Ogoh-ogoh ini kita tarik dengan motor yang di ikat pada gerobak, dikarenakan ukurannya yang besar kami kesulitan untuk memindahkan ke lapangan, namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi kami. Setelah di pindahkan ke lapangan, ogoh-ogoh di hiasi dengan lampu yang unik. Tiba di malam takbir itu tak hanya diramaikan dengan ogoh-ogoh saja, melainkan di ramaikan dengan 2 buah truck yang di isi rakitan sound. Sambil menunggu dari desa tinapan ke titik start Desa kami, kami melakukan kroscek untuk mengantisipasi kerusakan dan kekurangan. Tibanya, desa tinapan yang sudah datang di desa kami, dan di sambut warga di sepanjang jalan desa kami. Setelah mengelilingi desa saya, kami juga melaksanakan takbir keliling sampai desa tinapan. Kita juga disambut oleh warga sekitar dengan meriah. Setelah mengelilingi desa tinapan kami kembali desa Kami sendiri. Setelah perayaaan malam takbir usai, kami para pemuda melanjutkan mengumandangkan takbir di masjid. Dan merapikan masjid untuk persiapan shalat Idul Fitri. Pembuatan ogoh-ogoh ini menjadi tradisi di desa kami, dari tahun ke tahun.

Komentar
Posting Komentar